Tampilkan postingan dengan label tausyiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tausyiah. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juni 2014

Beginilah Seharusnya Ikhwan

Jika ada satu kata yang cukup untuk mewakili kriteria seorang calon suami idaman, maka kata itu adalah keberanian. Apalagi, di negeri dan zaman kita sekarang ini, budaya ikhwan melamar akhwat menjadi sebuah keharusan. Dan, ada tabu jika ada akhwat yang datang melamar ikhwan. Padahal, hal kedua ini bukanlah sebuah aib, jika dilakukan sesuai dengan aturan Allah melalui sunnah Rasulullah.

Sehingga, keberanian seorang ikhwan untuk bersegera melaksanakan sunnah Rasulullah ini, patut kita apresiasi dan menjadi satu kunci percepatan sebuah pernikahan yang didambakan. Tentu, kebaranian yang didasari oleh dua hal; niat karena Allah dan semangat untuk menjaga diri dari dosa.

Belum lama ini, berkisah seorang ikhwan pemberani. Dalam kisah singkatnya, dia ‘hanya’ membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan, mulai bertukar proposal, ta’aruf dan akhirnya menikah.

Awalnya, saya mengatakan kepada ikhwan ini, “Akh, antum ajukan proposal saja untuk akhwat itu.” Kebetulan, kami berteman sejak lama. Selanjutnya, dia melaksanakan usul tersebut. Sayangnya, dalam hitungan bulan, hasilnya nihil, dia kemudian melaporkan, “Akh, gak ada balasan. Kata ustadz, anggap saja bahwa ana ditolak.” Tak berselang lama, saya langsung menyarankan, “Kalau begitu, ambil saja opsi B. Sesuai yang ana ceritakan kemarin.”

Beberapa hari setelah perbincangan itu, dia menelpon dan menyanyakan banyak hal. Mulai dari niat, proses hingga teknis menjelang pernikahan, dan sejenisnya. Akhirnya, saya langsung menyimpulkan dengan berkirim pesan singkat, “Jadi, kapan akad dan walimahnya?” Dijawab dengan singkat, “Insya Allah akhir Mei tahun ini.” Pemberani. Kataku dalam hati.

Hingga akhirnya, beberapa hari yang lalu, dia menceritakan detailnya.

Selepas antum menyarankan untuk mengambil opsi B, ana langsung mendatangi Ustadz Amin. Dari ustadz Amin, ana langsung disuruh mendatangi ustadz Jamal. Sesampainya di rumah ustadz Jamal, sejenak bercerita, beliau langsung menunjukkan sebuah proposal. Kata beliau, “Udah, nikah saja sama akhwat ini. Ini proposalnya. Antum jangan banyak mikir. Pelajari saja proposalnya. Dan, buat proposal serupa untuk ana berikan ke akhwatnya.”

Ana pulang, antara bingung dan terharu. Pasalnya, akhwat yang diajukan dari ustadz Jamal ini fresh graduate dari salah satu Universitas Negeri di Ibu Kota dari Fakultas MIPA. Ia juga mantan aktivis BEM di kampusnya.

Dengan bismillah, ana membuat proposal, seperti instruksi ustadz Jamal.

Ternyata, ustadzah si akhwat adalah teman ngajar ana di sebuah sekolah yang terletak di Jabodetabek. Masih satu kota, hanya beda sekolah. Setelah proposal ana berikan ke ustadz, saya diminta bertanya kepada ustadzah tersebut. Kata ustadzahnya, “Kata Fulanah, terserah antum saja akh.”

Beliau menjelaskan, bahwa makna dari kata ‘terserah’ itu, ”Silahkan datang ke rumah untuk melanjutkan proses berikutnya.” Akhirnya, ana datang ke rumah orang tuanya, untuk kali pertama. Entahlah, ada rasa yang tak biasa. Tapi lantaran niat, hati ini dipenuhi keyakinan yang penuh. Alhamdulillah.

Pembicaraan selesai. Akhirnya, ana dipertemukan dengan si akhwat beberapa hari setelah kunjungan ana. Dalam pertemuan itu, disertai juga dengan ustadz ana dan ustadzah si akhwat. Dalam pertemuan ta’aruf itu, ana hanya menanyakan tiga hal.

Satu, bagaimana pandangan si akhwat tentang konsep keluarga. Dua, bagaimana pandangannya tentang konsep rejeki. Ketiga, apakah dia mau jika diajak hijrah ke kampung halaman untuk membuka ladang dakwah baru.

Ana tak mengira, ternyata jawabannya, sama dengan apa yang ada di benak ana. Hingga akhirnya, ditemuilah kata sepakat. Selang beberapa hari, ana memberi kabar kepada bapak. Bahwa ana meminta beliau menemani untuk melamar akhwat tersebut.

Alhamdulillah, lamaran ana diterima. Ana hanya datang berdua dengan bapak. Dalam proses khitbah itu, kami hanya membawa bingkisan ala kadarnya. Tanpa cincin, tanpa upacara seperti kebanyakan calon pasangan lainnya. Dalam kesempatan itu, kami juga membahas tentang kapan walimah dan prosesi teknis lainnya. Hingga akhirnya, disepakati waktu akhir bulan Mei bertempat di masjid dekat rumah si akhwat.

Tentang mahar, akhwat hanya menjawab ‘terserah’. Hingga akhirnya, dia mengatakan, malu-malu, “Kalau surah al-Qur’an, ana suka at-Tahrim. Insya Allah itu saja.” Dia menambahkan setelah ana kejar dengan pertanyaan, “Ada lagi?” Jawabnya, “Emas lima gram, tidak memberatkan antum, kan? Insya Allah itu akan bermanfaat untuk kehidupan kita selepas menikah.”

Menyeksamai penuturan sahabat ini, saya terkagum-kagum dan tak berhenti berdzikir, Subhanallahi wal Hamdulillahi wa Laa Ilaaha Illallhu Wallahu Akbar. Gumam saya ketika itu, “Ternyata, masih banyak mutiara di tengah tumpukan lumpur.”

Untuk kedua calon mempelai, kami doakan dengan penuh khusyu’, “Barokallahu lakumaa wa baroka ‘alaikumaa wa jama’a bainakumma fii khoir.” []
 
sumber : http://www.bersamadakwah.com/2014/03/beginilah-seharusnya-ikhwan.html

Minggu, 15 Juni 2014

Orang Tua, Ladang Amalan Terbaik Kita

dakwatuna.com - Suatu ketika, dikisahkan bahwa yang mulia Nabi SAW pernah ditanya oleh (khusnul khuluq) sementara perbuatan dosa adalah sesuatu hal yang membuat hati kita menjadi tidak tenang dan tidak ingin perbuatannya diketahui orang lain.

sahabatnya tentang beda antara kebaikan dan perbuatan dosa. Pertanyaan tersebut dengan tenang dan arif penuh wibawa dijawab oleh Rasul Agung bahwa kebaikan adalah akhlak mulia
Dalam tataran praktek dan contoh teladan, akan banyak kita temukan penjelasan atas definisi kebaikan dan perbuatan dosa seperti dimaksud di atas. Bagaimana orang-orang yang dekat di sekeliling kita memaknainya dengan tindakan yang kasat mata tampak di hadapan kita.
Salah satu akhlak mulia yang sungguh dekat dengan kita, namun banyak diabaikan adalah bagaimana kita dapat berbuat baik kepada orang tua dalam segala hal di setiap kesempatan. Sebuah akhlak mulia kepada orang terdekat kita di dalam dinding masing-masing rumah.
Berbuat baik kepada orang tua adalah kewajiban hidup yang seharusnya dipraktekkan. Bahkan, akhlak ini harus tetap wajib ditunaikan sekalipun orang tua kita dalam kesesatan dan menciderai kita sebagai anaknya.
Adalah teladan sahabat Nabi SAW, ketika diminta oleh ibundanya sendiri untuk meninggalkan agama yang dibawa oleh Nabi SAW untuk kembali kepada agama nenek moyangnya. Bahkan, permintaan ibundanya ini disertai dengan ancaman tidak akan makan dan minum sebelum sahabat tersebut kembali kepada agama nenek moyangnya.
Namun, sahabat mulia tersebut dengan arif bijaksana menjawab permintaan berikut ancaman tersebut tanpa kemudian melukai hati ibundanya dan menjatuhkan martabatnya. Beliau, sahabat mulia itu, berkata: walaupun memiliki 1000 nyawa dan hilang satu-persatu, namun beliau tidak akan mengikuti permintaan bundanya dengan meninggalkan agama yang baru dianutnya.
Perbuatan baik kepada orang tua termasuk amalan yang terbaik disisi-Nya. Bahkan amalan ini oleh Nabi SAW disejajarkan dengan amalan utama lainnya. Hal tersebut terekam dalam jawaban Nabi Muhammad SAW ketika sahabat bertanya tentang amalan-amalan terbaik antara lain shalat tepat waktu, berbuat baik kepada orang tua dan jihad fii sabilillah.
Kemuliaan dan keutamaan amalan ini tergambar dalam kisah al-Qamah, seorang sahabat yang tertahan dalam kondisi sakaratul maut, namun tidak kunjung meninggal dunia. Ternyata, al-Qamah memiliki kesalahan kepada ibundanya yang berakibat ketidakrelaannya kepada anaknya itu. Berkali permintaan Rasulullah, namun tidak digubris oleh ibunya. Sampai akhirnya, rencana akan dibakarnya al-Qamah menyebabkan ibunya mau memaafkannya sehingga anaknya itu dapat meninggal dengan tenang.
Amalan ini juga menjadi dasar sebab keberhasilan dan kesuksesan seseorang dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Karena adanya faktor doa orang tua yang terijabah oleh Allah SWT. Adalah kisah kehidupan ulama hadits terkenal, Imam Bukhari yang terlahir buta di kedua matanya. Namun berkat doa yang dipanjatkan tiada henti oleh ibunya, menyebabkan pulihnya penglihatan mata sang ahli hadits tersebut.
Ada banyak cara mengamalkan kebaikan kepada orang tua, adalah tergantung kondisi yang tampak, apakah itu objek pelaku (kita); pelaku penderita (orang tua kita) atau bergantung pada situasi. Dalam suatu biografi tentang perjalanan sukses seorang pengusaha, didapati bahwa ternyata ketika dalam titik nol keputusasaan karena kebangkrutan, pengusaha tersebut mendatangi orang tuanya seraya memohon maaf serta membasuh kedua telapak kaki ibundanya sebelum akhirnya dia menapaki tangga pertama suksesnya bangkit dari keterpurukan.
Bagaimana dengan kita? Amalan terbaik apa yang bisa kita persembahkan kepada orang tua sehingga menjadikan Allah SWT menerangi kita dengan jalan sukses dunia dan akhirat?

FENOMENA IKHWAN KOMENTAR DI FOTO CEWEK CANTIK

Subhanallah, cantiknya..”“seperti bidadari..”“maniez..”“cantik..”-LIKE-#kriuk(“,) *terOjih*itulah beberapa contoh komen tidakwajar dan perbuat kurang ajar yang sering aku lihat di facebook. Komen untuk foto milik cewek ataw wanita cantik, baik yang berjilbab, maupun ngga berjilbab dan dengan
pedenya mempertontonkan aurat!*shocked**keselek*dan anehnya adalah jika yang mengomentari seperti di atas, adalah ikhwan yang sudah ngaji! Karena seorang “ikhwan” harusnya sudah tau batasan aurat wanita dan harusnya tidak malah komen seperti di atas atau nge-like.Patutnya seorang “ikhwan” yang melihat penampakan menyeramkan demikian, menasihati si wanita atau cewek (aku ngga pake istilah “Akhwat”, karena Akhwat inshaaAllah ngga bakal ngaplot fotodengan aurat). Menasihati yang baik adalah lewat private message, agar terahasiakan. Setelah itu, ya sudah. Yang penting kan udah menyampaikan. Tapi kalo dikomen atau dilike..bikin gw ilfil. Rasanya gimana banget.. Ngga ah, ngga mau.*piso mana piso*Gadhul Bashar, menjaga pandangandi facebook khususnya memang syusyyyaah. Dan menjaga pandangan memang tidak hanya untuk Ikhwan, Akhwat pun demikian. Tapi, yang lebih sering kena itu Ikhwan ! Soalnya dulu kata temenku, kalo laki-laki liat wanita tu ngga kaya wanita liat laki-laki. Kalo wanita kan liatnya “oh gitu”, udah. Kalo laki-laki katanya ada efek lain yang timbul dan bukan hanya “oh gitu”. Entahlah.. Aku pun tidak tau apa yang mereka maksudkan, aku masih anak-anak.. Tapi yang jelas, efek itu pastilah negatif untuk si pemajang dan si penonton. (,’ ‘)Dari kalangan Ikhwan banyak yang menyalahkan wanita, “salah siapa ngaplot foto narsis !”, “wanita racundunia”hehehe#ahak! :VIya juga ya. Salah siapa ngaplot fotonarsis. Kalo ada Ikhwan yang kalap, itu kan salah si wanita juga, ngapainngaplot ! :V*bully gue bully*“Kalo ada laki-laki yang liat foto terus si laki-laki itu berpikiran negatif, si wanita ikut nanggung dosa si lelaki”kata-kata itu yang buat guw enggan ngaplot foto guw pake muka guw.Tapi guw tetep ngaplot T^Tya walo posenya katanya kasihan, tapi menurutku itu narsis. Narsis masing-masing individu memang berbeda yahh. Mangap yakk#emaapBUAT AKHWAT..Ukhty yang cantik, imut, shalihah..Lebih baiiiikk, tahan dirimu buat ngaplot foto cantikmu itu.. Jangan biarkan fotomu menjadi pajangan umum ! Jangan biarkan foto wajahmu dinikmati oleh pria lain selain *****mu ! Di dunia maya itu ngga semua baik, yang keliatan baik bisa jadi nakal..Ukhty, maukah kamu kalau ada lelakinakal melihat fotomu yang cantik itu dan berpikir entah karuan, sampai-sampai negatif dan lupa Ibadah..kamu rela ikut nanggung dosanya ???? Pasti ngga rela kan…Bayangkan Ukhty,, para artis yang mempertontonkan auratnya dengan bangga.. Hitung betapa banyak pandangan negatif lelaki untuknya.. Ukhty, hidup di dunia sesungguhnya sementara..teringat diriku pada status facebook Om Willy MerdyansyahTAHUKAN ANDA WAHAI WANITA FBWahai para wanita…tahukah anda bahwa:(1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu.. semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu3) Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan adapertanggungjawabannya kelak..!!!.Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari.., apalagi keelokan tubuhmu….(4) Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki??(5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu…maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…,(6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat…dan di akhirat kelak…bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!!!*ust. ChandraastaghfiruLlaah.. rasanya gw pengen banget tiduran di rel bangetnget nih sediain rel yang nyaman buat guwa..#ehGuw juga keinget status Ikhwah Gaul, sayangnya smsnya terhapus :’|intinya, yang belum berjilbab atau yang setengah iya setangah engga, jangan pajang foto yang keliyyatan rambutnya. Karena, siapa sih kita.. dan maut menjemput tuh ngga pakeizin dulu. Kalo kitanya masih pajang foto begituan di socmed terus meninggal dan auratnya keliyatan????? Jangan sampay kafan itu awaldan akhir dari nutup aurat !#jlegGuwa sms-in itu ke ceman-ceman pas malem, paginya mereka heri.. ada yang bilang katanya “kalo aku meninggal aku udah kasih passwordfbku biar fotonya dihapus” #ahak :VDan beberapa sadar, sejenak. Kemudian mereka mulai ngaplot lagi.Padahal guwa hamper sukses jadi kompor..#eaaaaaaaaabisa juga Ukhty, ada laki-laki ato cowok yang komen di fotomu terus sua**mu cemburu.. Gimana dong ?? (“,)#uhukBUAT IKHWAN…Sabar ya Oms. Aku tau, jadi ikhwan buat gadhul bashar lebiiih berat dariakhwat. Tapi jaga ya Oms.. Jangan berbuat kaya yang gw ngga suka di atas, karena mungkin aja istr*mu juga ngga suka.Oke Oms, gw tau gw tau. Emang berat ya. Ya kalo misal si wanita tetep narsis, REMOVE aja. Gampang kan Om :’)*pentung guwa pentung*kamu akan lebih mulia kalo kamu bisa menjaganya Om. Trust meh !(9҂’̀⌣’́)9Soalnya kemarin kan aku tanya-tanya. Nah ada beberapa Ukhty Shalihah yang jawab, katanya yang suka ngelike itu bukan kriteria ***** hayolohhhh*ngilang*emaap aku panggil Om, soalnya kan aku masih anak-anak(.••)/\(••.)tapi Oms, walo guwa masih anak-anak dan belum bener banget gini, guwa tetep ngga suka kalo guwa punya pasangan yang tukang like sama tukang komen di foto cewek. Dan kayaknya wanita dan atau ababil pun demikian



(Sumber darihttp://dewisaladin.blogspot.com/dengan beberapa perubahan).